Jumat, 04 Mei 2012

Puisi Peradaban Jilid 2


Lintah-Lintah Emas Demokrasi
Karya : Hazimah Khairunnisa’

Derap langkah angkuh itu masih lagi berbinar di singgasana
Mataku takjub, merangkai lamunan penuh andai dan andai
Terurai janji-janji manis dan masa depan yang terjamin
Hingga semua mata tertuju padamu di balik binar terang harapan

Namun, hari ini.. kemarin.. dan mungkin esok
Hidup ini tak lagi manis, Tak lagi nyaman tuk di senandungkan
Melahap pandangan ini dengan angaran-anggaran kebijakan
Berbayang indah, Berbinar Surga, Namun mencabik jiwa

Di balik angan-angan panjang yang harap-harap senang
Nyata di padang tak lagi rimbun rumputnya
Kami kini jiwa-jiwa yang terdampar
Harapkan ombak datang menjemput, Kapal pun karam di bibir pantai

Ingatkah kau pada kami dan benih-benih janji demokrasi mu?
Ingatkah kau dengan tangan-tangan kecil ini yang berharap penuh?
Ingatkah kau dengan amanah tuk generasi kami?
Ingatkah kau wahai lintah-lintah emas penggenggam kebijakan?

Banyak hati yang kecewa direlung panjang penuh derita
Tertipu dan tertipu dengan intelektual lintah-lintah emas
Kau seduh seluruh darah-darah kami, darah generasi kami
Karena kau, lintah-lintah emas demokrasi

----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Saduran Materi Al-Islam Edisi 591

Puisi Peradaban Jilid 1

SAATNYA KHILAFAH MEMIMPIN DUNIA

Jangan ada dusta di antara kita.
Walau daulah belum lagi berdiri.
Aku terus berharap Engkau masih mengasihi ku.

Ku tapaki jalanan berduri penuh tipu muslihat.
Melangkah dan terus melangkah dengan satu keyakinan.
Daulah Khilafah Islamiyah akan kembali.

Walau ribuan, jutaan, milyaran orang berkata "Tidak Mungkin..."
Namun ku coba sedaya upaya tuk yakinkan diri.
Walau banyak orang-orang yang berperasaan dengan tega berkata "Kau sesat!!!"
Namun ketahuilah, aku bahagia menjadi pejuang syariah dan khilafah.

Satu pesan untuk semua, tidak ada syurga untuk pecundang.
Yang hanya berenang mengikuti arus kejahiliyahan.
Tidur nyenyak diantara dipan-dipan duniawi.
Tanpa sadar, TANPA BAI'AT KITA MATI DALAM KEADAAN KAFFIR KAFFAH.

Hati ku menangis pilu saat Sang ibu tak lagi menjadi UMMI WAROBATUL BAIT.
Asa ku hancur berkeping-keping saat Sang Ayah tak lagi amanah memimpin keluarga.
Namun, aku tidak akan pernah diam dan mau bertaklid buta pada peradaban.
Masih ada sinar Islam untuk dibangkitkan.
Masih ada darah kebahagiaan untuk diperjuangkan.

Walau raga tak mampu berbuat banyak, namun aku yakin.
Dan akan sangat-sangat yakin
LAA ILLAHAILLALLAH
Tidak ada tuhan selain Allah
Walau banyak orang bertuhankan manusia terlaknat
MUHAMMADUR RASULULLAH
Muhammad Rasul Allah
Walau banyak orang menjadikan Antek-Antek Yahudi dan Nasrani sebagai Idola.

Memperdagangkan wanita-wanita seantero jagat.
Memproklamirkan kebebasan ala kebinatangan.
Menjerat para UMMI untuk membangkang pada Suami.
Menjerat para AYAH untuk KORUPSI.
Menjerat para PERAWAN untuk menjual auratnya atas nama TREN masa kini.
Menjerat para PEMUDA dengan budaya ugal-ugalan ala GENERASI ALAI.

Tidak lagi sadar, diri tergadai.
Tidak lagi percaya bahwa arus zaman ini menyesatkan.
Tidak percaya lagi tentang hari berbangkit dan penghisaban amalan dunia.
Tidak percaya lagi bahwa Allah ESA.
Hingga OBAMA dijadikan Tuhan, SBY dijadikan Pemimpin Negara.
Mau jadi apa negeri ini?
Aku hanya menjawab lirih, SEMUA HARUS KEMBALI.
KEMBALIKAN ISLAM KU UNTUK GENERASIKU.
JANGAN SIKSA KAMI DENGAN KETAMAKAN KALIAN.
SELAMATKAN KAMI DENGAN SYARI'AH DAN KHILAFAH.

Janji Allah itu pasti, Khilafah Islamiyah kan bangkit.
Tuk kedua kalinya dan terakhir kalinya.
Nasrullah....
Jemput generasi kami dengan ridho-Mu.
Karena tidak ada tanda cinta selain Syurga.
Tidak ada pengharapan selain RIDHO-Mu.
Tidak ada kemuliaan hidup tanpa DAULAH KHILAFAH ISLAMIYAH.
ROMA menanti untuk ditumpaskan.
Janji Mu pasti, dan ku sangat yakin itu.
SELAMATKAN KAMI dengan Pertolongan-Mu.



Yenni Sarinah
22 JANUARI 2011
07:57 PM

Cerpen Tentang Nilai-Nilai Kehidupan

Live is Choice

Deraian tangis anak-anak palestina masih terngiang-ngiang dideruan bom-bom kafir harbifi’lan disana sini. Dentuman yang membumi hanguskan peradaban islam yang menjadi warisan terakhir pada nabi. Dengan semangat jihad mereka tetap siqoh memegang islam sebagai ideologi dan darah dalam aliran kehidupan mereka. Walau kini mereka tak lagi dianggap manusia, namun allah menantikan mereka disurga sebagai syuhada. Bagaimana dengan kita?” oceh seorang mantan ulama yang dianggap hina dan gila dipojok kota besar itu.

Dalam kebisuan ku terus mendengarkan ocehan itu sembari menunggu kereta keberangkatan selanjutnya. Walau aku tak mampu berucap dan berbicara, namun kata-kata itu mengiris sesak dihati ku. Sakit rasanya apabila aku adalah anak Palestina. Dibumi hanguskan bagai binatang tak memiliki pengembala. Di bantai terang-terangan tanpa dilindungi oleh negara.

Dalam benak ku terlintas pikiran “Negara ku apakah mungkin kan jadi negara mereka? Negara ku apakah mungkin bisa ku bagikan dengan mereka? Wahai tuhan aku tak pantas tuk menjadi penghuni syurga, namun tak pula aku sanggup ke Neraka mu. Maka terimalah taubat ku serta ampunilah dosaku, sesungguhnya engkau lah pengampun dosa besar.”

Setelah kereta ku datang menjemput, sembari tersenyum pada sosok lelaki tua yang masih menunggu di kursi antri kereta itu, aku sadar ampunan Allah Maha Luas. Aku ingin berubah, tapi aku belum tau akan kemana ku kerahkan jasad dan ruhiyah ku ini. Aku masih bingung, namun aku masih ingat do’a Abu Nawas bahwa Allah Maha Luas ampunannya. Dalam hati ku terucap “Subhanallah”.

Ku melihat seorang muslimah yang sangat rapi dan mulia, jilbab1nya menutupi sekujur tubuhnya menghilangkan jejak lekuk tubuhnya yang indah layaknya seorang wanita, kerudung2nya yang menutupi kepala dan terjulur hingga menutupi dada membuatnya anggun bak istri-istri Rasul, dan jemari-jemari imut yang tersipu-sipu malu tertutup kaos kaki dan sepatu yang unik dan lucu namun tidak mengundang ketertarikan para pria tuk menjamah indahnya. Harumnya tak semerbak pedagang parfum yang menjajakan parfum-parfum yang membuat hina wanita muslimah. Dia sederhana dalam kesederhanaan namun anggun dalam memegang Islam sebagai ideologi dan jaminan dalam hidup. Lagi-lagi bertutur hati ini “Subhanallah…”.

Ku dekati muslimah itu dan ku sodorkan selembar kertas yang ku tuliskan dengan tinta berwarna biru. “Assalamu’alaikum ya ukhti, ahlan wa sahlan. Kenalkan ane Citra.

Dengan senyum yang lembut muslimah itu mengambil kertas dan menjawab langsung sembari menatap ku “Wa’alaikumussalam wr wb, ahlan bigh. Ane Sari. Kira-kira antum mo kemana?

Ku hanya tersenyum dan menulis sebait kata “Ane mencari ketenangan, ane bingung dengan ketidak jelasan kehidupan ane di kos dan di kampus. Setidaknya dengan mengikuti bus ini ane bisa menemukan inspirasi kehidupan. Ukhti akan kemana?

Tak lekang senyum tersirat di bibirnya yang lembut dan suaranya yang halus bertutur sembari menatap iba pada ku “Ya ukhtifillah, kenapa antum habiskan waktu antum hanya untuk jalan-jalan. Apakah tidak ada yang lebih bermanfaatkan ya ukhti untuk mencari inspirasi? Afwan, ane hanya bertanya saja. Alhamdulillah ane ingin ke suatu tempat. Ada acara Mega BILT (Mega Basic Islamic Leadership Training) di Universitas ane. Ukhti mau ikut? Insya allah di sana banyak inspirasi kehidupan.

Sejenak aku berfikir mencari jawaban dari pertanyaan seorang wanita yang ku pandang mulia dan anggun. Ku simpan alat tulis yang hanya membuatku tidak bersyukur dengan nikmat suara ini. Dalam pikiran ku terlintas “Seperti orang bisu saja pake nulis-nulis di buku. Astaghfirullahal’adzim..

Terngiang-ngiang lagi pesan-pesan yang masih membayang dikepala ku ini. Bingung dan ragu, bosan dan malas, sangat-sangat tak bermaya. “Apa yang harus aku lakukan ya Allah…”.
Bagaimana ukhti? Mau ikut gak? Live is choice, hidup itu pilihan, antum bisa pilih, mau jalan-jalan tanpa arah atau datang ke majelis ilmu?” ucap ukhti Sari sembari menepuk-nepuk pundak ku seolah-olah memberi semangat dan menguatkan agar aku tak lagi ragu-ragu. Aku terdiam sejenak dan berpikir akan memilih yang mana.

Lamunanku tersentak saat tangan ku diberi selembar kertas dari ukhti Sari. Ku buka kertas itu sembari tersenyum. Dan ku baca dalam hati : “Nak atau tak nak? (mau atau tidak mau?) Lau nak seribu daye (Jikalau mau seribu usaha), lau tak nak seribu daleh (Jikalau tidak mau seribu alasan). Ane tunggu di depan Universitas Islam Riau. Afwan telah mengganggu waktunya, syukron atas perkenalannya. Semoga antum tidak salah pilih. Ane sisipkan alamat tempat acara itu dan nomor hp ane. Kapan pun antum bisa menghubungi ane. Ane permisi duluan. Assalamu’alaikum

Sembari menjawab salam di kertas itu, aku ternyata telah kehilangan muslimah itu diperhentian sebelumnya. Tersentak hati ini ingin mengikuti muslimah itu mengisi kehidupan agar lebih berarti. Ku berhenti diperhentian selanjutnya, menyebrang dan mencari transport untuk menuju alamat yang di berikan muslimah itu sesegera mungkin.

***

Sesampainya di tempat yang dituju, ternyata subhanallah.. muslimah itu masih menunggu dengan senyumnya yang manis dan mulia. Bak bidadari yang turun dari syurga ke bumi. Subhanallah semoga apa yang hamba mu ini lakukan Engkau ridhoi ya Rabb..
Subhanallah…. Assalamu’alaikum ya ukhti, gimana? Siap tuk mencari ridho Allah?” sembari menjabat tangan ku dan mencium pipi kanan dan pipi kiriku. Ku melihat matanya berbinar-binar seakan-akan terharu melihat kedatangan ku. Aku juga salut melihat penantiannya menunggu aku datang menyambut undangannya ke acara yang belum aku ketahui seperti apa wujudnya. “Wa’alaikumussalam wr wb, Alhamdulillah ya ukhti. Insya Allah ane siap. Yuk..

***

Sesampainya di tempat acara itu, ukhti sari mendaftarkan ane di tempat pendaftaran. Subhanallah… acara ini sungguh besar. Peserta yang hadir saja 400 orang lebih. Subhanallah…
Ya ukhti, apakah pilihan ane ini sudah benar? Apakah ane kali ini bermimpi?” tanya ku karena masih ragu. Ukhti Sari menjawab sembari tersenyum “Yuk, udah.. gak usah ragu-ragu lagi. Antum udah berada di tempat yang memang antum cari, insya allah. Yuk kita masuk. Acaranya udah mo di mulai. Ustadznya dari Jakarta loh, seorang mu’alaf yang memang bisa memotivasi banyak orang. Namanya Felix siauw, nama islaminya Muhammad Al-Fatih. Ingat gak seorang pemuda yang berusia 21 tahun yang bisa memenuhi bisyarah rasulullah dengan menaklukkan kota konstantinopel itu loh. Tapi kalau Muhammad Al-Fatih yang akan kita lihat nanti itu usianya 26 tahun ukhti. Yuk… kita ikuti aja prosesnya”. Dengan penuh keyakinan ku menjawab “Ayo.. siapa takut.

Seusai acara aku menemukan jati diri ku yang selama ini aku cari. Terima Kasih Ya Rabb.. Tanpa Mu siapalah aku.

Yenni Sarinah, 2011
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
1 Jilbab : Pakaian yang telah ditetapkan syari’at Islam bagi wanita ketika ia keluar dari kehidupan khusus (Rumah) ke kehidupan umum (Luar Rumah), yang harus diulurkan ke bawah sampai menutupi kedua mata kaki. Adapun kewajiban mengenakan jilbab bagi wanita Mukminat dijelaskan di dalam Surat Al-Ahzab,33 ayat 59 : “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min : ‘hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Adapun yang dimaksud Jilbab adalah milhafah (baju kurung) dan mula’ah (kain panjang yang tidak berjahit).  Di dalam kamus al-Muhith dinyatakan, bahwa jilbab itu seperti sirdaab (terowongan) atau sinmaar (lorong), yakni baju atau pakaian longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutup pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung. Di dalam kamus al-Shahhah, al-Jauhari mengatakan : Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhafah) yang sering disebut dengan mula’ah (baju kurung). Di dalam kamus Lisaan al-‘Arab dituturkan : al-Jilbab adalah baju atau pakaian yang luas yang berbeda dengan baju kurung. al-Zamakhsyariy dalam tafsir al-Kasysyaf menyatakan : Jilbab adalah pakaian luas, dan lebih luas daripada kerudung, namun lebih sempit daripada rida’ (juba). Imam Qurthubiy di dalam tafsir Qurthubiy menyatakan : Jilbab adalah pakaian yang lebih besar daripada kerudung. Imam Ibnu Katsir dalam  tafsir Ibnu Katsir menyatakan : Jilbab adalah jubah yang dikenakan selain kerudung. Imam Syaukani dalam tafsir Fathu al-Qadiir menyatakan : Jilbab adalah pakaian yang lebih besar dibandingkan kerudung. al-Hafidz al-Suyuthiy dalam tafsir Jalalain menyatakan : Jilbab adalah al-Mulaa’ah (kain panjang yang tak berjahit). Hal yang sama juga dinyatakan oleh Ibnu Mas’ud, ‘Ubaidah, Qatadah, al-Hasan al-Bashriy, Sa’id bin Jabiir, Ibrahim al-Nakha’iy, ‘Atha’ al-Khuraasaniy, dan lain-lain.

2 Kerudung : Pakaian yang telah diterapkan oleh syari’at Islam bagi wanita yang berupa penutup kepala hingga mencapai dada, agar leher dan lekuk dadanya tidak tampak.

Cerpen Menentukan Pria Pilihan

CHOICE MAN

            “Siapa bilang hidup itu gampangan. Gak semudah membolak-balikin telapak tangan kale…. Yach, hari gini masih ada yang suka CP2 (baca : curi pandang cari perhatian). Ogah deh….!!! Udah deh… gue gak peduli sedikit pun.” ucap Tiara saat melihat dua orang pria yang suka sekali nodongin dia di Kampus. Jutek sih orangnya, but siapa yang bisa nangkis mulut canggihnya. Dramatisir wicaranya lebih sadis dari eksekusi mati.

            Tiara, siapa yang gak kenal ma gadis jutek, angkuh, n gaul abiz. Gaul versi arab guy’s… Dia sohib deket gue, alumni santri di salah satu Pondok Pesantren terkenal di kota gue. Orangnya narsis abiz lau gi berkhalwat ma kita-kita yang muhriman dia. Kocak sih so pasti bangets… malahan guyonannya bisa bikin wasir gue kambuh. Lum lagi lau song and dance’s-nya kumatan. Gak cuma bikin kekie but obat ngantuk paling top cheers… kecape’an versi down-up-down gak pake melek lagi.

            Kita punya cerita tersendiri ma dia. Gue, Iyen, Tiara, and Sari udah sohiban sejak SD loeh… siapa sih yang gak kenal kita-kita. Yach, walaupun kemaren Tiara mondok n yang laen nyantri di SMPN, kita tetap ada moment ngumpul bareng ngedubrak QF masing-masing. Pasti pada gak ngerti khan… QF tu apa????? Neh, gue kasitau, QF tu short street under busy from Qiyadah Fikriyah alias kepemimpinan berfikir. Dia tuh dosen under busy-nya.

            Gimana gak top cheers tuh, ada aja komen dia lau ngeliatin sikon di Kampus. Kebetulan kita-kita satu Kampus gitu dech. Tiara ma Iyen JJS (baca : job-job school) neh di FKIP Pendidikan Biologi. Lau gue JJS-nya di FKIP Sastra Budaya. Lau Sari JJS-nya di FKIP English. Gokil yach, gue ma yang laen pada gak nyangka si nenek lampir tuh bakalan barengan lagi ma kita-kita. Udah bosen kalie ya mondok terus.

            Okey… next, kita punya deal’s neh. Siapapun bisa jadi apapun gak pake no limited edition. Why? Semua pasti pengen tau kan maksudnya apa. Gini loh, kita itu punya komitmen lau kita bakalan sama-sama, everywhere, everytime, every-every deh intinya. Apapun sikonnya, kita-kita tetap siqoh ne ma jjs multidimensi kita. Apa ya?........... neh, kita gak bakalan bawa is-me2 (baca : paham) apapun tuk mengikat persahabatan kita. Bincang-bincang QF neh yach, kita-kita udah kenal ma macam-macam ikatan neh guy’s, diantara Kapitalisme, Sosialisme, Komunisme, n Islam. Nah, sejak udah nge-QF neh kita-kita udah pada siqoh (baca : komitmen) wat jadiin persahabatan kita-kita terikat erat atas asas mabda’ Islam. Pasti pada gak ngerti kan mabda’ tu apa? Itu loh guy’s pondasi dasar bangunan pemikiran kita alias ideologi or katanya neh mabda’ tu ponakannya landasan berfikir gitchu deh. Udah, next ……

***

            “Tiara… Ups… ‘afwan ukhti, assalamu’alaikum……. Kaifa haluq?” sapa seorang ikhwan ganjen, gejejlek (baca : G-a-t-e-l) dan suka kali gangguin Tiara. “Siapa sih murabbi-nya, ge te el bangets.” bisik Tiara di sosys (baca : sound system alias telinga) gue. “Hust… mu lau mo ngomong jgn gitu bangets buk. Biologis dikit dong bahasa mu tu. Maklum, tuh ikhwan ge te el kata mu karena dia kan gi PUBERS….  Yang lunak dikitlah ngomongnya. Sayang tuh ma jilbab n kerudung mu. Akhwat itu gak perlu jadi mesin eksekusi ummat, lau bisa sebaliknya jadi dokter ummat. Yang ahsan lah ngomongnya” sembari si Iyen ber’amar ma’ruf nahi munkar detik itu juga. Emang spontaner banget lau Iyen udah ngomong.

Beda Iyen, beda pula Tiara. Mereka versus abis perihal karakter. Jika diawal kita kenal Tiara itu jutek, angkuh, n gaul abiz. Lau Iyen laen versi, dia lebih-lebih jutek, calm (baca : Kalem), dan lebih sadis wicaranya dari Tiara. Kenapa ya?.... Loading-search-ending : ternyata terdeteksi mereka satu Ayah beda Ibu. Yach, buka pembukuan massal neh. Hm..m…. yuppy… seperti itulah mereka. Walau beda Ibu, mereka seperti saudara kembar. Gak kebayang deh lau keluarga mereka udah ngumpul, bombastis bangets….. gimana gak bombast, Abinya aja jutek, angkuh, gaul, n de el el…. Wajar toh, generasinya seperti Iyen and Tiara. Okey… next.

***

Last week, saat kita-kita gi ngumpul ditempat favourite-nya Iyen (seperti biasa di aula FIKOM seberang kampus FKIP), kita ditodong neh ma Ijal (baca : indak jaleh alias tidak jelas). Kalo gak salah neh namanya juga Ijal. Kita-kita ditodong bukan karena kita-kita tajir guy’s, kita ditodong karena Tiara neh bikin penasaran banyak kaum Adam. Gimana gak kepincut tuh ikhwan-ikhwan sekampus lau ngeliat aura pantang tembusnya Tiara. Gak gampangan bro…. udah pinter, gaul, sholehah, cantik, anggun, dan japan (jaga pandangan) abies... Wuih, dimata para ikhwan neh ya dia umpama Bidadari Mawar.

Apaan sih si Ijal nee…. Gak nyerah-nyerah juga ngejar-ngejar Tiara” ujar Sari saat Ijal tersenyum indah sembari berjalan ke arah tongkrongan kami. “Hayo, gosip… gosip… gosip….” tutur Iyen cuek sembari melanjutkan nge-up-date status FB-nya. “Yuhuu…. Kang Ijal datang tueh neng. Yo.. mbok ditanggepi napa” sapa ku pada Tiara. Eh…ternyata si jutek nenek lampir ni malah cuek banget. “Wow…. Studio 1 siap melaporkan accident selanjutnya. Kwak…kwak…kwak…..” tambahan dari gue.

Assalamu’alaikum ya ukhti tiara. Khaifa haluq? Bisa kita bicara sebentar?” ujar Ijal setelah steady di hadapan kita-kita. Tanpa warming-up, Tiara langsung bangkit dan berkata : “Demi kemuliaan mu dimata ku, henyah kau sejauh-jauhnya dari pandangan ku”. Dengan wajah pucat pasi si Ijal berlalu meninggalkan kami sembari berucap “’Afwan, syukron… jadzakumullah khairan katsiran sudah mengingatkan ane. Yang jelas niat ane baik untuk ta’aruf ma ukhti”. Sesaat suasana menjadi sangat mencekam.

Mau mu apa sih ti? Niat si ijal kan baik buat ta’aruf ma mu?” ujar Sari sembari tersenyum separuh ketawa. “Gak seperti itu kali ta’arufnya. Lau emang pengen ta’aruf, ikuti jalurlah. Emang gue apaan. Gak semurah itu setelah Islam menjaga kemuliaan para wanita. Lau emang serius, temuin dong musyrifah gue. Gak kaek gini caranya. Emang kalian pikir dia nekad kaek gitu udah bisa dikatain macho? Gak dow… tu mah jual harga diri.” Ujar Tiara sembari merenung sejenak. “Kalau pun ingin diperlakukan secara mulia, mu gak sepantasnya begitu ma dia dan ikhwan lainnya dek. Pake lah cara yang ahsan. Gak langsung nge-jump kaek gitu.” Ujar Iyen dengan wibawanya sebagai kakak.

Yach… kak, ti tu gak bisa ngomong baik-baik ma ikhwan-ikhwan ge te el itu kak. Kak ne kaek gak tau karakter ti aja.” Ujar Tiara. “Masa’ iya kak gak tau karakter mu. Emang udah berapa abad kita barengan? Semua yang mu suka dan yang mu benci udah ada neh drafnya dikepala kakak mu ne haa….” Ujar Iyen sembari mengakhiri aktifitas da’wahnya via dunia maya. “Gak ma’ruf ta’aruf yang seperti ini kakak ku….” bantah Tiara sembari menatap sinis dan kesal. “iya… kak tau adek ku. Diemin aja dia tadi, gak usah diladenin. Toh dia juga udah ngaji, so pasti dia tau aturan pergaulan dalam Islam. Mungkin saja dia belum paham, makanya dia masih seperti itu. Wajarkan, toh no body perfect dek.” ujar Iyen sembari menatap lembut kearah Tiara.

Wow….wow…wow…. emang sepantasnya ta’aruf yang diridhoi Allah swt tu seperti apa sih ti? Jadi pengen tau neh versi santri.” Ujar Sari. “Sari…… he’s not choice man. Cause, he’s not know about nidzomul ijtima’i fil Islam. And I’m not ready yet. Puas..???” tutur Tiara dengan angkuhnya. “Maksudnya Choice man tuh apa sih ti?” sembari gue nimbrung walau gue tau maksudnya apa. Yach, sekedar feed-back lah buat yang komen. Penyakitnya si Tiara tuh sok nge-english but terkadang tulalit. Dengan sinisnya Tiara berkomentar, “Choice man itu artinya pria pilihan. Emang tipe-tipe si ijal itu pantas gak dijadikan pilihan? Menurut gue gak!! Kemarin gue MU (baca : I’m and You alias curhat) ma musyrifah gue soal ikhwan-ikhwan ge te el itu. Musryifah gue bilang pria pilihan itu : 1. Sholeh, 2. Japan abis (baca : jaga pandangan), 3. Hafidz Qur’an, 4. Tidak sembarangan mengutarakan isi hatinya, 5. aktifitasnya da’wah, de el el. Lau tipe-tipe ijal mah bukan pria pilihan. Dengan dia berbuat kaek tadi itu, berani-berani nemuin gue, ngajak ta’aruf, sms-smsin gue, nelpon, and ngerumpiin gue di depan teman-teman dia tu udah cukup sebagai tanda bahwa nafsiyahnya udah cacat. Akan timbul banyak hal-hal yang tidak pantas dilakukan oleh daris maupun darisah kaek kita jika nafsiyah kita sudah cacat. Ibarat raga ini udah dicengkeram oleh jemari-jemari nafsu. Kalo emang dia ingin ta’arufan ma gue, lewati jalur dong. Temuin kek musrif dia, buat proposal ta’aruf, terus lewati tuh PJ ikhwan chapter kampus atau minta bantuan ustadz terdekat tuk nyampein hasratnya tuk kenal ma gue. Yang seperti itu kan lebih mulia ketimbang gentlemen gak jelas gitu. Tulah budaya asing, udah mencuci abis qiyadah fikriyah para ikhwan wal akhwat kampus kita. Gue cuma pengen yang halal lagi diridhoi Allah swt. Toh kita-kita udah siqohkan tuk hidup hanya untuk mencari ridho Allah ta’ala. Gue gak kebayang jika Allah swt gak ridho ma aktifitas harian kita. Wah… catatan harian gue bakalan malu-maluin Rasul kelak. Na’udzubillahi mindzalik... jauhi hamba dari fitnah dunia ini ya Rabb…”.

Udah…. Tutup buku tuk hari ini. Sekarang kita udah belajar satu hal penting dan ku rasa udah cukup. Simpulin tuh kultum tiara barusan.” Ujar Iyen sembari tersenyum manis. “Jadi, kesimpulannya adalah setiap pria pilihan akan berjodoh pada wanita pilihan.” Ujar Sari. “Yups… that’s right sar.” Ujar tiara. “Oww….. gitu toh ceritanya, sepertinya penantian akan terasa lebih indah jika kita bisa memecahkan ‘uqdatul kubro (3 simpul besar) kehidupan : Dari siapa kita ? Untuk siapa kita hidup? Dan akan kemana kita?... so pasti jawaban 3 simpul besar itu adalah ALLAH SWT” ujar ku. “Yups… bener banget. Gak kebayang deh jika salah satu diantara kita menjadi korban peradaban.” Ujar Iyen sembari melantunkan sebait lagu :
Tidak pernah ada pilihan untuk lahir di zaman ini…
Tapi selalu ada pilihan untuk mau bangkit memperbaiki kondisi...

Yuk…… bubar. Lapar neh.” Ujar Tiara sembari menyeret kami semua dari pelataran FIKOM kala itu. Yach… seperti itulah kehidupan, ni’mat tak kan dapat diukur tanpa syukur, berkah tak kan dapat diundang tanpa ta’at pada syari’at, dan hidup tak kan indah tanpa masalah. Ingat satu pesan : Life is choice (hidup itu pilihan). Bijaklah dalam memilih, remember one thing : Pria pilihan hanya untuk wanita pilihan. Sudahkah anda menjadi Pribadi Pilihan sesuai syari’at?

Created By : Yenni Sarinah
17 November 2010, 01:54 am.
FKIP Biologi Semester 5

Terbit di Koran Kota Metro Riau
Rubrik My Story Hal.11
09 Januari 2011, Minggu

Cerpen Kecintaan Pada Islam

Pria Pengejar Masjid

            Suatu pagi yang dingin, sunyi sepi, penuh dengan pijar – pijar bola lampu menerangi setiap sisi rumah dan halaman serta jalan – jalan raya. Disudut kota, tinggallah seorang pria di sebuah kontrakan kumuh dalam kesendirian. Di atas bumbung pemilik rumah, sederet kamar kost menaungi pintu demi pintu dengan ruangan kecil yang cukup tuk 1 atau 2 orang penghuni. Di sanalah kehidupan merantau dimulai oleh beberapa orang pria penuntut ilmu. Sebuah ilusi yang cukup mengharu biru, datang dari kampung halaman dari berbagai kabupaten, dari berbagai pelosok daratan dan lautan, menjauh dari keluarga untuk menuntut ilmu sebagaimana di anjurkan oleh Rosulullah saw “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri china”.

           Anjuran ini bukanlah berarti kita harus sampai ke china hanya untuk menuntut ilmu. Toh disini banyak orang china yang bisa kita jadikan contoh dalam mengejar suatu tujuan. Jika kita melihat, berapa banyakkah china yang tidak bangun di awal pagi? Mungkin hanya sebagian komunitas china yang bangun kesiangan. Kenapa Rosulullah saw menganjurkan kita seperti yang telah disebutkan di atas? Rosulullah saw ingin hambanya bergegas bangun pagi dan jikalau bisa menunggu sholat subuh berjama’ah di Masjid. Bisa saja menunggu sambil sebelumnya melaksanakan sholat tahajud ataupun sholat fajar atau pun sholat qabliyah subuh tentunya.

            Begitu banyak anjuran Rosulullah saw yang mengajarkan umatnya untuk bangun lebih pagi. Dikisahkan pada berbagai kisah tauladan bahwasanya siapapun yang bangun pagi, maka dia akan beruntung. Kenapa beruntung? Karena di awal pagi itulah malaikat rahmat turun membagikan rezki kepada seluruh umat manusia apapun suku, bangsa, ras dan agamanya. Betapa Allah swt menyayangi hambanya. Dia Maha Menjaga Hambanya dan Dia tidak pernah tidur maupun lalai.

                                                               ***

            Dari pojok beranda yang berjejalan dengan pintu – pintu kamar kos itu, turunlah secara tergopoh – gopoh pria separuh baya dengan semangat jihad yang menyala – nyala. Semangat yang menggentarkan tangga – tangga dan suasana awal pagi itu. Kemanakah gerangan dia melangkah? Siapa yang ia lawan pagi itu dalam perang jihadnya? Untuk siapa dia melakukan kekonyolan itu? Bertubi – tubi pertanyaan tentunya menerawang tuk seorang tetangga yang kebetulan melihat ulahnya setiap kali melihatnya.

            Pria itu bernama M. Bilal, sesosok pria lugu, ramah hanya pada sebagian orang saja, aktivitas kesehariannya tak jauh dari gambaran umat nabi muhammad yang sesungguhnya. Dikala waktu senggang, ia sempatkan untuk berolahraga dan membaca al-qur’an sembari tidak lekang tuk menghafal pesan – pesan yang Allah swt kirimkan sebanyak 30 juz, 114 surah dan 6666 ayat. Pandangannya jauh dari maksiat, bagaimana tidak demikian? Kesehariannya jangankan melihat secara gamblang wanita – wanita yang ada di seberang kos-nya, menegur wanita di jalan pun jarang. Itulah sesosok pria idaman wanita – wanita muslimah yang senantiasa mengikuti sunnah rosul dan menerapkannya dalam kehidupan sehari – hari.

            Mengingat nama pria lugu ini adalah M. Bilal, jadi teringat pula dengan kisah di zaman Rosulullah saw tentang seorang budak beriman yang di aniaya oleh kafir quraisy karenan keteguhan imannya yang menyatakan bahwa Allahu Ahad (Allah itu satu), beliau bernama Bilal Bin Rabbah. Seorang budak yang hidup dalam kehinaan sebelum islam datang mendobrak habis sistem perbudakan dan perbedaan golongan. Bilal Bin Rabbah, sesosok pria berkulit hitam yang bukanlah idaman wanita saat ini. Kenapa? Seorang Bilal Bin Rabbah ini adalah seorang pria yang sangat hitam bak batu hajar aswad, hitam legam melebihi arang yang terbakar, yang terlihat dari beliau hanyalah senyuman yang menawan. Jika beliau tersenyum, pijar – pijar indah tampak dari senyumannya itu, giginya yang putih lagi menawan dan keteguhan hati serta keramahannya yang lebih – lebih lagi menawan dari sekedar fisik yang beliau miliki saat itu.

                                                              ***

            Subuh itu M. Bilal sibuk merapikan tempat tidurnya, bergegas menuju kamar mandi dan mempersiapkan diri tuk sholat subuh berjama’ah di Masjid. Disaat adzan subuh berkumandang, derap – derap langkah mengalun rentaknya di tangga sudut kos tersebut. Dobrakan pintu gerbang berderak – derak berbunyi seraya perlahan – lahan membuka tanpa terniat membangunkan penghuni yang lain. Di maklumi bahwa tidak hanya umat islam yang tinggal di kos itu tetapi hampir separohnya dihuni oleh pemuda yang beragama kristen. Seraya melangkah penuh semangat jihad, bilal melangkahkan kakinya menyambut seruan adzan yang mengajak umatnya untuk menerima hadiah besar dan hadiah kemenangan dalam memerangi hawa nafsu. Kenapa begitu semangatnya ia dalam mengejar Masjid padahal subuh adalah waktu yang paling nyaman untuk melelapkan mata dan tubuh ini dalam kasur empuk dan lembut? Itulah sebagian kecil tanda keimanannya kepada Allah swt sebagai Rabb-nya dan Rosulullah saw sebagai suri tauladannya.

            Seraya melenggang menuju Masjid tuk berjama’ah, sembari pula beliau melafazkan dzikir di dalam hatinya. Setiap langkahnya adalah dzikir, setiap ucapannya adalah dakwah, bukankah seperti ini pria muslim yang sesungguhnya? Pria yang di dambakan oleh bidadari syurga dan juga wanita muslimah ciptaan Allah swt. Subhanallah... Melihatnya bagaikan melihat Rosulullah, semangatnya bagai semangat Bilal bin Rabbah, keteguhan jihadnya bagai melihat Umar bin Khattab, keramahannya bagai melihat Abu Bakar As-shiddiq. Ia jaga pandangannya dari hal – hal yang berbau maksiat, ia jaga waktunya agar waktu ini tidak menuntutnya kelak, ia jaga jasadnya dari hal – hal yang diharamkan, ia jaga hatinya dari maksiat dengan selalu berdzikir kepada Allah swt. Subhanallah... Inikah sosok Bilal bin Rabbah? Inikah pembela islam kelak? Insya Allah, selamanya dia lah pria pengejar Masjid yang kebanyakan orang enggan untuk mendatanginya.

                                                                     ***

Dalam Surat At-Tahrin,66 : 8, Allah swt berfirman :
(8). “ Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
           
           Allah swt mengajak orang – orang yang beriman kepadanya untuk bertaubat kepadanya dengan taubatan nasuhaa. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mengikrarkan keimanan kita dengan menjalankan perintahnya dengan sungguh – sungguh? Janji Allah swt itu pasti, dan ia tidak pernah ingkar dengan janji-Nya, ialah pemilik seluruh isi alam ini, tidak ada yang tidak mungkin, jika Ia berkehendak jadi maka jadilah iya (Kun Fayakun).

            Tanyakan kembali kepada diri kita sebagai seorang pemuda islam, sudahkah kita sholat 5 waktu sehari semalam di Masjid berjama’ah? Sudahkah kita sempurnakan sholat kita dengan di barengi sholat - sholat sunnah qabliyah dan ba’diyah? Sudahkan kita jaga malam – malam kita dengan sholat tahajud? Sudahkah kita sempurnakan hari kita dengan membaca al-qur’an, menghafalnya dan mengamalkan isinya? Sudahkah kita awali kegiatan kita dengan Bismillah dan diakhiri dengan alhamdulillah? Sudahkan kematian kita jadikan langkah tuk hidup kekal abadi? Ingatkah kita akan datangnya kematian itu? Seberapa banyak bekal yang kita bawa tuk pulang dari negeri perantauan ini (Bumi) ke hadapan Allah swt? Sudahkah kita jadikan Rosulullah saw sebagai suri tauladan yang baik? Tanyakan pada hatimu wahai pria yang mengaku diri kalian muslim. Jangan jadikan islam hanyalah sebagai identitas KTP saja, jadikan pula islam itu sebagai karakter pribadi kalian sebelum kafir quraisy menghapus islam itu dari ingatan kalian. Naudzubillahi min dzalik...


Yenni Sarinah, 2010

Puisi Persahabatan Jilid 2

Mutiara Hati Dinda


Dinda…
Duniamu bak teratai dihulu danau...
Sukar diterka, sukar dijamah…
Senyap tak berisyarat, kaku tak bercita…
Namun ku tau jiwamu mendambakan pijar-pijar cahaya…

Dinda…
Diammu terangkai seribu arti tak bertuan…
Senyummu luluhkan deru-deru amarah…
Kepiawaianmu tajamkan asa dalam raga tak bermaya…
Ibarat mutiara hati yang memijar dikeheningan malam tak berbayang…

Dinda…
Di hati ku tersirat sebuah rindu…
Di jiwa ku tersimpan kenangan syahdu…
Di ingatan ku mengingat kau dalam senandung kasih berdawai manja…
Kenanglah daku dinda…
Keabadian kasih mu menari-nari dalam detik-detik panjang perjalanan…
Tanpa hadir mu, ku ibarat gitar tua tak berdawai…
Tanpa senyum mu, ku ibarat pelangi tanpa warna…
Tanpa kasih mu, ku ibarat pasir hitam di dasar samudra…
Engkau mutiara hati, dalam dekapan kerinduan angin sepoi-sepoi dibulan purnama…


Created By : Yenni Sarinah
2010

Puisi Mencari Jati Diri

DWI PRIBADI

Jemari menceriterakan karakter dari ruh...
Akal pikiran mendeskripsikan karakter dari jasad...
DWI-PERSONAL, sesosok traumatis mengekang habis jalur kebersamaan jasad dan ruh..
Sesat tak tentu arah, rintik-rintik coment menjabar halus karakter ruh dan jasad yg tak lagi menyatu...
Satu pertanyaan buat jemari dan akal pikiran, WHO AM I ? ...
Dwi personal dalam satu raga mengejar kejam merangkai tirani...

Satu sajak nan tak kunjung terjawab DIMANA PRIBADI TUNGGAL KU?...

Hujatan mengalir deras dari mulut-mulut cerdik pandai...
Kesal tak kunjung padam terpancar dari wajah-wajah pemandang...
Sesal tak berkesudahan menjerat mati hati tak bertuan...
Kalut, Resah, Bimbang, Lelah, saat sastra jemari mendoktrin dua pribadi dalam diri...
Kemana aku mesti bernaung...
Di setapak sastra jemari ataukah Di jalan licin berduri?...
Menjadi sosok dambaan kaum adam ataukah mencari jati diri?...
Berbinar bak bidadari ataukah dekil bak pengais?...
Bermegah karismatis ataukah terjungkal dalam tangis?...
Bagaimana aku mampu merumuskan karakter diri disaat jasad dan ruh tak lagi mau berbagi?...
DWI PRIBADI dalam abdi dan janji...

Created By : Yenni Sarinah
31 Mei 2010